Day #30 : A Song That Reminds You of Yourself

Dibalik tampilan saya yang (kalau kata orang, ya) cenderung tidak pernah meledak-ledak (kalau meledek sih sering), saya sebenarnya termasuk dalam rombongan orang yang gampang senewen. Gampang mengkhawatirkan hal-hal kecil. Jujur, saya enggan dibilang orang yang perfeksionis, tetapi pada kenyataannya saya sering sekali ingin semuanya terlihat baik, tentu saja menurut standar penilaian saya sendiri.

Dulu saat menjalani sebuah tes psikologi di kantor lama, psikolognya juga memberikan penilaian yang sama. Saya bukan tipe orang yang mementingkan pencitraan, bukan orang yang pintar berpura-pura tetapi saya termasuk orang yang ‘tidak ingin terlihat jelek di mata umum’. Sehingga apapun kekusutan yang terjadi ‘di dalam’, sebisa mungkin saya akan berusaha untuk ‘menutupinya’ lebih dulu, sehingga orang lain akan melihat bahwa saya baik-baik saja. Sambil jalan, saya akan mencoba merapikan apa yang kusut itu tanpa diketahui oleh orang. Entah bagaimanapun itu caranya.

Capek? Sudah tentu.

Itulah makanya kemudian ia memberikan beberapa masukan agar saya bisa sedikit lebih ‘laid back’ terhadap diri sendiri dan terutama pada hidup itu sendiri. Intinya adalah jangan memerumit hal yang tidak perlu dibuat rumit. Because life is really simple. But sometime we insist on making it complicated. We should try to stop thinking so hard about everything, and stop over analyzing.  Hidup ya dijalani saja dengan apa adanya.

Kalau memang ketemu dengan hal yang menyebalkan, ya memang berarti proses perputaran roda hidup sedang berhenti di tahap itu. Begitu juga ketika bertemu dengan hal atau perasaan yang menyenangkan. Kedua hal yang saling bertolak-belakang ini sesungguhnya sama saja. Sama-sama pasti akan berakhir pada waktunya dan tergantikan dengan lainnya.

Dan lagu milik David Foster ini mengingatkannya lagi pada kita. Pada saya, tepatnya.

“Live and breath are just not ours to give
Each day we take or granted is the day we live..
We don’t hold tomorrow in our hand
And so I’ve learn to live each day the best I can.

Lagu ini seperti bilang,

“Sudahlah, Dek. Mbok ya sudah. Berhenti terlalu lebay mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di depan. Berhenti terlalu memusingkan apa yang kamu kira orang lain akan pikirkan terhadap kamu. Kamu apa nggak capek? Kamu tahu kan kalau semua ketakutan dan kekhawatiran yang sering muncul di kepalamu, itu adalah kekhawatiran yang kerap dibuat sendiri? Dan kamu tahu kan kalau hampir semua kekhawatirkan kamu itu pada akhirnya tidak pernah terjadi?

Saking seringnya terlalu memusingkan hal itu, kamu sampai lupa untuk melaksanakan tugasmu ; menikmati dan menjalani setiap hari dengan sebaik-baiknya. Sudah, lakukan saja itu dulu. Itu saja sudah cukup berat tantangannya, lho. Kadang saking sudah penuhnya jadwal dan kerjaan, kamu sudah seperti orang yang terbirit-birit dalam menjalani hari sehingga hari berganti ke minggu pun kamu tidak merasakan apa-apa. Padahal itu ‘hidup’  kamu, lho. Pemberian Tuhan yang setelah terlewati, nggak akan bisa kamu dapati dan alami lagi…”

Mungkin ada baiknya jika tulisan diatas ini saya cetak, saya stabilo, saya laminating dan saya bawa kemana-mana. Sebagai pengingat, agar saya tidak hanya (sok) jago menulis atau berkata-kata, tetapi juga harus bisa menerapkannya dalam kehidupan sesungguhnya 🙂

Anyway, akhirnya genap sudah 30 tulisan saya buat dalam 30 hari. Selesai sudah tantangan #30DayMusicChallenge. Terima kasih sudah berkunjung mengikuti perjalanan ini. Semoga tahun depan bisa tetap konsisten untuk menulis, bukan hanya karena hasrat demi ‘menunjukkan diri bisa menaklukkan sebuah tantangan’ semata.

Ada ‘amin’?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *